The Big Day


The fourth of July has always been celebrated in the U.S. for over 200 years now. It’s their independence day. With festivities all over the country, it’s something anyone could enjoy. I used to enjoy eating nachos on paper plates and sipping a big glass of coke while admiring the excellent fireworks in a park in Lubbock. Those were good memories. I was even on flag duty back then. And then came the movie “Independence Day”, one that exposes the fourth of July and promotes it to be the independence day of not only the United States, but the whole world. A typical American action movie.

But then, the fourth of July has also been celebrated quite a few times in my own family. It’s the wedding anniversary of my parents. We usually go out as a family, trying to find a quiet spot to dine and enjoy the evening together. What makes me really look up to my parents is how they took care of each other for these 25 years. There were fights, of course, but no marriage would be exciting without them. But they are still together, still loving each other, and that’s what really matters.

This fourth of July will be one of those days I hope to be memorable. It’s the day of my undergraduate final exam. It would be splendid if I could pass on the same day as my parents’ 25th anniversary.

By the time I’m finished writing this, it will be exactly 4 days to my exam. I have had lots of help from my two teachers — the ones who guided me on my thesis. We had spent many hours together discussing the tidbits of my thesis, and today both of them supported me with their kind words. Sometimes I think this is too easy, as I’ve heard numerous stories on how teachers are often harsh on their students. Well, I never did know what God has up His sleeve for me. All I know is that it must be good for me.

And so I’ll try to spend the next few days carefully: memorizing everything that must be said during the presentation, reading books listed on my bibliography and also my own thesis over and over again, and trying to get some good night sleep before the day advances. I’ve written everything that must be written, printed every page that needed to be printed, took notes of everything that I need to remember, checked and re-checked my laptop and its backup PCs almost every day, and tried to pass any remaining time watching feature movies at night.

The wait is boring, and it’s killing me…

Advertisements

Merintis Usaha Percetakan


Malam ini aku mulai merintis usaha percetakan yang sudah kucita-citakan sejak 6 bulan yang lalu. Setelah berkutat dengan 580 halaman cetak dan hampir 60 lembar salah cetak (human error, sekitar 10,34%), usaha percetakanku dinyatakan DIBUKA.

Nanti setelah selesai revisi, akan dinyatakan TUTUP…


Final Revision DP2


Setelah berbincang selama hampir satu setengah jam, demikianlah revisi yang perlu dibuat:

  1. Di bagian penutup, jangan terlalu mengekspos kelemahan sistem. Gunakan bahasa marketing. Jangan menulis sesuatu yang akan menimbulkan pemikiran “ah, yang bikin aja meremehkan”. Skripsi adalah komoditas, pertahankan nilai jualnya. Ayo belajar MLM!
  2. Nomor halaman masih banyak yang salah. Bagian awal tulisan (baik naskah maupun makalah) dengan angka romawi kecil, di tengah bawah. Setelah itu angka biasa, halaman pertama bab di tengah bawah dan halaman lainnya di kanan atas. Untuk lampiran, nomor halaman diberi indeks, misalnya untuk lampiran 2 halaman 7 diberi nomor L2-7.
  3. Antara naskah dan lampiran diberi satu halaman pembatas. Setiap lampiran diberi halaman judul tersendiri.
  4. Abstraksi terdiri atas tiga paragraf. Paragraf pertama berisi latar belakang masalah. Paragraf kedua berisi langkah penyelesaian yang ditempuh. Paragraf ketiga berisi hasil pencapaian.
  5. Ilustrasi bab 4 agak terlalu banyak. Tampilkan ilustrasi yang benar-benar esensial saja.

Oke, back to work!


Stand Up and Fight!


Setelah mendengarkan dua sahabatku melacur (melakukan curhat – red.) beberapa jam yang lalu, aku jadi ingat satu hal yang penting.

Never depend on anyone unless you had stood up and fought with your bare hands.

Jangan pernah bergantung pada orang lain sebelum mencoba dan berjuang, kalau perlu “bertarung dengan tangan kosong” sekalipun. Seperti orang bilang:

What doesn’t kill you makes you stronger.

Tetapi di sisi lain, jangan pula beranggapan bahwa kemampuan diri akan menyelesaikan segalanya, karena kesombongan dan gengsi hanya ilusi yang menyesatkan. Berusaha dengan kemampuan diri perlu dan harus. Namun bila diri memang tidak mampu, harus tetap berbesar hati mau meminta bantuan.

Sesakit apapun, sepahit apapun, sesulit apapun, jangan pernah menyerah apabila belum mencoba dengan sekuat tenaga, dengan segenap usaha, dengan seluruh kemampuan. Karena mimpi hanya sekedar mimpi apabila tidak diusahakan, dikejar, dan diperjuangkan. Setiap hari adalah perang melawan kemalasan, ketergantungan, dan keputusasaan.

Aku pikir aku tidak akan kalah, tapi optimisme belaka bukanlah jaminan keberhasilan. Di sisi lain, dalam kegagalan sekalipun aku akan meraih pengalaman yang berharga: penguatan diri yang berproses seiring dengan luka dan kepahitan yang terjadi.

Terima kasih Tuhan, untuk semua kegagalanku, untuk semua kepahitan yang aku alami, untuk semua kesukaran yang aku hadapi. Aku tidak meminta jalan yang mudah dan lurus. Jika Engkau menghendaki, biarlah jalan itu berkelok-kelok, berlubang-lubang, terjal, bahkan menyesatkan. Yang aku minta adalah kekuatan untuk menghadapi itu, karena aku yakin di ujung jalan itu adalah rencanaMu yang terbaik, dan bersamaMu aku tahu aku tidak akan tersesat.

Stand up and fight!!!


Resuming Work…


Yak, setelah hampir 2 minggu 10 hari praktis menganggur karena bingung tidak ada niat, akhirnya story engine yang baru telah (hampir) siap digunakan. Meskipun masih menunggu beberapa minor fix yang masih harus dilakukan, pekerjaan di sisi antarmuka tetap bisa dilakukan. Dengan demikian, muncul to-do-list baru:

  1. Siapkan fungsi untuk meng-query story model yang bisa diakses baik oleh pengguna umum ataupun pengguna terdaftar.
  2. Rombak core logic bagian story model editor menurut struktur dan logika yang baru!

Selain itu, masih ada PR yang belum selesai dari kemaren:

  1. Judul modul dan submodul dikasih link untuk memudahkan navigasi
  2. Cari tau cara integrasi plugin yang lebih anggun di Fusebox
  3. Cari cara yang lebih anggun untuk menghentikan eksekusi script ketika ada pelanggaran hak akses

Tapi ingat kata-kata Bu Suning: FOKUS ke penyelesaian, bukan kesempurnaan!

Yak, sekian laporan dari (NG)Kerti™!


Hasil Konsultasi DP2 (SSK) 1 Mei 2008


Hasil konsultasi kemarin:

  1. Bab 2 overall OK, lanjut ke Bab 3. Minor fix tentang beberapa hal teknis penulisan.
  2. F.O.K.U.S.! Fokus pada target penyelesaian, bukan pada kesempurnaan karya. Don’t be idealist, be realistic.
  3. Mengerjakan proyek yang sama secara paralel akan menimbulkan masalah “menunggu dan ditunggu”. Harus diatasi secara bijak dengan tetap memerhatikan kepentingan masing-masing pihak.

SweetTitles


Malam ini bosan ngurusi kode PHP yang kalau dituruti nggak akan pernah ada sempurnanya. Selalu ada ruang untuk menyempurnakan. Iseng-iseng aku mengunjungi website milik kang Oggix, si juragan hosting dan domain. Setelah liat-liat sini dan situ, ternyata sekarang idWebHost punya blog. Wah, apa pula ini? Langsung meluncur ke TKP…

Setelah baca-baca ini dan itu, tidak sengaja aku menemukan ada tooltip yang asik tampilannya, pakai efek fade-in pula. Penasaran, aku Ctrl+U di Firefox, liat sana-sini mencari jejak javascript yang bertanggung jawab untuk efek itu. Setelah ketemu sumbernya, buka, dan ketahuanlah bahwa si empunya script adalah seorang Dustin Diaz, pegawai Google yang memang berkutat di bagian user interface.

Meluncur ke TKP!

Setelah sampai di sana, baca-baca blognya, ternyata nama scriptnya SweetTitle, dan sudah mengalami banyak perubahan. Meskipun sudah cukup “berumur” (debutnya tahun 2005), tapi masih cukup menarik. Tanpa pikir panjang, donwload dan baca-baca dokumentasi. Hmmm… sepertinya cukup mudah diimplementasikan. Memang akan perlu mengubah beberapa (puluh, atau malah ratus) baris kode di phpFormGenerator, tapi nggak ada salahnya to… Dengan catatan: kalau ada waktu lebih aja…

Kalau nggak salah tadi aku berniat mundur selangkah dari usaha penyempurnaan tiada henti, lha kok malah mau menyempurnakan lagi… Piye to iki??