Vanilla Me


I realize that just a few months ago I posted about how I should be thankful, how no one was able to be a perfect friend, and that my friends are good enough for me. Well, I just had this thought…

This is not a gripe. Just a thought.

What if… I didn’t have all the things I have right now? What if I didn’t have a 32-inch LED TV? What if I didn’t have a motorbike? What if I didn’t have a MacBook? Or a sound system set? A gym membership?

What if I didn’t know a thing about programming? What if I was stupid? What if I had no arms or no legs or no limbs at all? What if I had that nasty tumor attack me once more and I bleed to an almost certain death?

Nah, it’s getting too extreme… Let’s take a few steps back…

What if I was just… me? Plain-old-me. Vanilla me. No possessions. No wealth. No skills.

Just. Me.

Would you still be my friend? Would you still want to be a friend to me?

Would you ask if I wanted to go to the beach? Would you text me or buzz me just to see if I’m OK? Would you care if I hadn’t eaten lunch? Would you tell me how your mom scolded your sister because she went out with the wrong boy? Would you share a bowl of fruits with me because both of us couldn’t afford a full meal? Would you ask me to meet up just so we could talk about anything and everything until both of us couldn’t keep our eyes open anymore?

Would you?

Advertisements

Stupid or Idiot


Hey…

It’s been a while. Well, I thought you were busy and everything. You had your dream job and your dream boy, so I thought I’d just step aside…

But then it all happened. Honestly, I really didn’t know how to react. A part of me hurt because I knew you’re hurting. But another part of me actually thought I might have another chance. Does that make me a bad person? I don’t really know, but if it does I wish it would stop…

Just now you sent a message to me saying how you missed him. I know I should have had empathy for you, but the moment I read your message I felt like someone just stabbed me. I’m sorry. I’m just…broken.

Every time you call me “bro”, it just stings. It’s like a fence you put around yourself so that I don’t go any closer. But maybe it’s the right thing for you to do, because when all of my heart wants to show itself, I won’t be able to hold back.

All this time you were saying how stupid you are when you decided to wait for him. Well then, I guess I’m an idiot.

If only you knew how I really felt about you…


Lelah?


Aku lelah dengan hubungan cowok-cewek yang katanya ‘teman’ tapi ternyata ga murni seperti itu…

Sama kalo gitu, aku juga lelah…


Selamat Ulang Tahun, Kerti


sudah lewat masa itu
sudah terlampaui tempat itu
sudah terucapkan kata-kata itu
sudah terlalui kebersamaan itu

sudah usai kah?

tidak! aku tidak mau mengakhirinya!
kembalikan padaku semuanya!

biarlah sekali ini hatiku menjerit
lepaskan aku, biarkanlah aku berontak!
bukalah pasung hatiku! aku ingin berteriak!

pilihanku bukanlah keinginanku
tapi aku tidak kau perbolehkan memilih keinginanku
karena aku tahu kau akan lari ketika aku mengatakannya
itukah yang pantas aku terima?
mengapa! mengapa kau seperti itu?
mengapa kau boleh dan aku tidak boleh?
apa bedanya kau dan aku?

kau memaksanya menghadapimu
tapi kau tidak mau menghadapiku

tanyaku: adilkah?
tapi aku sudah tau jawabnya
tidak ada yang adil
keadilanmu adalah untukmu, bukan untukku

baiklah, silakan kau bangun dindingmu setebal mungkin, setinggi mungkin
aku tidak akan menerobos, bahkan melihatnya pun aku enggan

sudah selesai semua
selamat ulang tahun, kerti…


Tersindir!


Ketika iseng-iseng berkunjung ke sini, aku membaca…

“Ingat, Nduk.. Hanya yang merasa memiliki yang bakal merasa kehilangan..”

Demikian frase yang langsung membuatku terdiam. Sungguh amat sangat benar sekali! Berarti selama berminggu-minggu ini aku merasa kehilangan sesuatu, karena aku sudah merasakan memiliki sesuatu. Berarti, salahku sendiri! Karena kenyataannya aku nggak pernah memiliki. Aku hanya ingin memiliki, berkhayal memiliki, dan akhirnya berasa memiliki. Padahal yang *ingin* kumiliki itu bukanlah barang, tapi manusia!

Selama ini, aku meremehkan hal-hal yang terjadi di antara kami. Perjalanan-perjalanan itu, guyonan-guyonan itu, bahkan air mata itu juga, aku menganggapnya hal yang mudah. Tidak perlu diusahakan, tidak perlu bersusah payah memikirkan ini-itu, menjaga perasaan, dan sebagainya dan sebagainya. Dan aku terlena, aku menganggap semua mudah. Aku menjadi egois. Aku lupa bahwa aku pun harus punya peran untuk mempertahankan hal-hal yang *ingin* aku miliki.

Berarti, sudah saatnya untuk melepaskan. Mungkin untuk sementara, mungkin untuk selamanya, entahlah. Tapi itulah yang harus dilakukan.


Aku dan Blog


Apa sih gunanya blog?

Ada sebagian orang yang memang suka ngeblog karena suka menulis. Mereka menuliskan apapun yang terpikir, yang dialami, yang disaksikan. Blognya menjadi penuh warna, kaya makna, dan seringkali menggelitik, mengundang pembacanya untuk membaca lebih jauh, berbagi pendapat dan saling mewarnai dalam keragaman.

Ada juga sebagian orang yang menulis di blog hanya jika ia sedang membutuhkan tempat untuk “membuang sampah”. Ketika tidak ada siapapun yang bisa dijadikan tempat berbagi uneg-uneg, ketika hidup terasa begitu berat dan harus dihadapi sendirian, blog menjadi tempat pelarian yang bisa diandalkan. Tidak pernah marah, tidak pernah tersinggung, selalu mau mendengarkan dan menampung segala keluh kesah yang ada, blog menjadi tempat favorit orang-orang yang seperti ini.

Ketika sang penulis telah mengenyahkan kesusahannya, ketika ia tidak lagi perlu menangis, ketika keluh kesah itu sirna, apakah yang terjadi? Orang yang memang berniat menulis akan tetap menulis, apapun yang terjadi ia akan tetap menulis. Tapi orang menulis karena membutuhkan tempat mengeluh tidak akan lagi menulis, karena ia telah kehabisan bahan.

Lalu apa hubungannya aku dan blog?

Kadang aku merasa aku ini seperti blog. Bukan blog yang penuh warna, yang di dalamnya ada sukacita bersebelahan dengan dukacita. Lebih menyerupai blog yang kelam, yang hanya berisikan keluhan-keluhan, bahkan kadang umpatan. Hanya menjadi tempat yang aman di mana si penulis bisa menangis sejadi-jadinya tanpa diketahui dunia luar.

Lalu apakah aku sama dengan blog?

Tidak! Aku bukan blog! Aku pun butuh didengarkan sekali waktu, dikuatkan ketika aku lemah, diingatkan ketika lupa, ditemani ketika kesepian… Aku tidak bisu, aku pun ingin bicara, walaupun terkadang tidak dengan ucapan kata-kata. Aku pun ingin dimengerti, dicintai, dan dimanusiakan.

Karena aku manusia, bukan blog.


Promises Revisited


Besok kita ketemuan ya, di kampusmu, besok aku sms lagi jam berapa.

Aku pengen ada untuk adik-adikku ketika mereka belajar berorganisasi di sini untuk pertama kalinya.

Oke, besok gantian ya, berangkatnya aku dan pulangnya kamu.

Sekali lagi, aku teringat percakapan ini di film Home Alone 2:

Kevin McAllister: Don’t worry, I won’t forget to remember you.
Old lady: Don’t make promises you can’t keep.