Killing Herself Softly…


Sudah beberapa bulan terakhir ini aku mengamati web page seseorang. Sudah sejak hampir setahun yang lalu *kalo ga salah* isi profilnya adalah tentang kesedihan, kesepian, keputusasaan. Memang sih, waktu itu dia putus sama cowoknya. Understandable, kalau dia sedihnya 2-3 minggu, mentok-mentoknya 2 bulan lah. Seberapa cepat seseorang bisa recover dari kesedihan semacam itu sangat tergantung pada mental attitude yang bersangkutan. Aku sendiri menganggap diri bukan orang yang bisa recover dengan cepat, tapi toh akupun nggak sampe setahun. Tepatnya sekitar 4 bulan. Tapi ini, hampir setahun?

Tapi apa daya, aku sekarang tidak dalam posisi menanyakan, ngaruhke, atau apapun. Karena terakhir kali aku melakukan itu, aku dianggap terlalu memasuki wilayah pribadi. Kuakui waktu itu aku agak sok tau dan sok bijak, tapi sebenarnya niatku baik. Dan sekarang aku hanya bisa membaca dan membaca lagi tulisan-tulisan dia di web page dia, bertanya-tanya kapan kesedihan yang “dipiaranya” akan berakhir…

In my opinion, she’s killing herself softly. Setia pada pasangan harus, setia pada mantan sampai batas tertentu boleh lah, tapi apa gunanya bersedih karena ditinggalkan seseorang? Karena kebahagiaan seharusnya tidak tergantung orang lain, tapi tergantung bagaimana kita menyikapi hidup.

If you want to be happy, then you will be happy.
If you feel you’re sad, then you really are sad.
If you think you’re useless, you are indeed useless.
What you think about yourself is what you will become, so think positive!

Advertisements


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s