just a conversation


suatu malam, di sebuah warnet yang terletak di kota jogja, terjadilah percakapan antara si operator (O) dengan salah satu pelanggan (P) yang kebetulan kesulitan membuka flashdisk-nya. berikut ini kutipan yang walaupun tidak verbatim tapi bisa memberi gambaran yang cukup jelas tentang apa yang terjadi, setelah flashdisk akhirnya bisa dibuka.

P: wah, akhirnya bisa. deg-degan juga tadi. modal usaha saya di situ semua je…

O: oh ya? usaha ibu apa?

P: saya jualan kerajinan, ya barang-barang craft lokal gitu. ini foto-fotonya.

O: ooo… wah, bagus juga. ini dari produsen-produsen lokal?

P: iya, saya biasanya mengambil dari orang-orang desa. kadang-kadang dari kasongan. ya sekitar-sekitar situ saja.

O: wah, bagus juga. ibu tertarik dengan batik kah? atau pernah jualan produk batik?

P: ada. ini beberapa contoh. ada kotak tisu dari bahan kertas batik. ada juga setelan-setelan baju batik. tapi jangan salah sangka lho. batik di sini artinya batik kontemporer. saya ambil desain-desain dari malaysia atau thailand lalu saya lempar ke produsen lokal. kalau sudah jadi saya jual di inggris dan eropa.

O: lho, kok tidak pakai desain lokal saja bu? kan kita juga punya desain sendiri.

P: wah, kalau kita mau idealis dan berusaha melestarikan apa  yang kita punya, anak-anak saya ndak bisa makan. desain-desain lokal kita nggak laku di luar sana. di eropa, batik indonesia hampir disamakan dengan motif atau corak etnik afrika. dan di sana produk-produk afrika sudah jelas masuk kelas 3. jadi sudah bukan kelas 2 lagi.

O: yang bener bu?

P: iya. makanya saya belum berani menembus pasaran eropa dengan produk lokal, karena susah sekali dijual. high-risk operation. bisa sih dijual, tapi mungkin hanya satu-dua, maksimal lima lah. nggak bisa kalo mass production.

O: lalu desain-desain ini?

P: ya ini batik kontemporer. dan tidak seluruhnya batik. misalnya rok yang ini, cuma bagian depan bawahnya saja yang dibatik. dan ini semua batik tulis lho. pakai malam juga. ya seperti batik yang kita punya itu.

O: kalau yang ini?

P: itu desainnya dari mesir. semacam hieroglyph. di eropa sana yang beginian ini yang laku keras.

O: ooo… wah, kasian juga desain-desain kita dinomortigakan

P: ya gimana lagi. kalau saya si memang tujuannya cari duit. saya nggak bisa idealis. kalau memang ada orang-orang yang ingin mengembangkan dari sisi sosio-kultural, bagus juga, tapi menurut saya itu tidak bisa dijadikan usaha utama. perut tetap nggak kenyang.

ternyata, orang kita sendiri saja berpikir seperti itu. memang bener juga visi bisnis si ibu itu. orang bisnis ya harus ikut pasar. kalau permintaan pasar berubah, kita juga harus berinovasi. masak sih kita selamanya jualan sesuatu yang jelas-jelas nggak laku? kadang sedih juga, tapi ya gimana lagi, perut tetap harus diisi.

batik oh batik… kasihan dirimu disia-siakan…

Advertisements

2 Comments on “just a conversation”

  1. aruda says:

    hmmm…
    mari kita lestarikan batik…
    mulai dari diri mu dit…
    pakailah batik dimanapun kau berada…

  2. bayisehat says:

    walah…
    mosok mau renang pake batik???


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s