terima kasih…

Saturday, 17 February 2007 at 10:17 (Clean Start)

ia berkata:
"enak ya, punya orang yang perhatian, jadi nggak perlu minta udah dibeliin."
sekejap aku tersadar, betapa Tuhan mengasihi aku, betapa aku dilimpahi dengan berkat-berkat yang seseorang seperti aku tidak pantas menerimanya.

terima kasih Tuhan.

Permalink Leave a Comment

inFLUenza…

Thursday, 15 February 2007 at 13:09 (Imparticular)

buset dah dua hari ini cuaca bener-bener nggak bersahabat. masak sih dua hari berturut-turut cuacanya gonta-ganti, dibolak-balik (emangnya telur dadar?). pagi mpe siang panas nggak karuan, habis itu menjelang sore hujan badai menerjang. terjadilah pelapukan fisik, seperti apabila gelas yang baru saja dipakai minum kopi panas diisi softdrink yang nyaris beku. pecah! ya begini lah jadinya, hari (malam?) pertama dinas minggu ini diwarnai hidung meler dan bersin-bersin. udah gitu lupa bawa obat sekalian, jadi nggak ada senjata sama sekali.

Permalink Leave a Comment

bad words, bad sentence, bad language

Friday, 9 February 2007 at 10:14 (Disconcerting)

bukannya aku mau nggaya karena kemampuanku berbahasa inggris lebih dari rata-rata. bukannya aku mau memaksa semua orang untuk menjadi perfeksionis dalam hal mengetik. bukannya aku nggak mau tahu kalau arsitek itu bukan ahli bahasa. bukannya aku sok sibuk dengan kerjaanku yang sebenernya cuma nungguin komputer. tapi…
ini sudah benar-benar keterlaluan. mereka itu kan sarjana, dari universitas terkemuka pula. kalau sudah punya ijasah S1 itu apa ya kemampuan berbahasanya separah itu? maksudku bukan dalam kehidupan sehari-hari, tapi dalam ranah komunikasi formal, lebih spesifik lagi komunikasi formal secara tertulis. kalau mereka belum tahu caranya menyusun sebuah dokumen formal, bagaimana bisa mereka lolos ujian skripsi? padahal yang namanya menyusun skripsi itu kan butuh berkali-kali revisi, bahkan sampai ke hal-hal yang kecil.
lha gimana to, masak kata di sebagai kata depan dan partikel di- sebagai imbuhan (awalan) masih sering kebolak-balik?
ya sudahlah, aku nggak mau berpanjang-panjang. aku cuma males aja disuruh mengoreksi kerjaan mereka menerjemahkan isi brosur wisata ke dalam bahasa inggris. lha gimana, wong yang versi bahasa indonesia saja masih membingungkan. lha nanti bisa-bisa turisnya kesasar karena kalimatnya nggak nyambung.
ayo berbahasa indonesia yang benar dan baik…

Permalink Leave a Comment

me vs rust

Friday, 9 February 2007 at 9:19 (Netsubô)

duh, baru berapa hari pacar terbaruku aku titipin ke rumah Agung, senarnya dah pada mulai berkarat. la gimana, aku belom sempat beli spon dan minyak. jadi kemaren aku lepas semua senarnya, aku bersihin sekalian pickup, neck, sama fingerboardnya, trus aku minyaki dulu senarnya pake minyak mesin jahit merk Singer (halah… promosi), trus kupasang lagi. yah, lumayan lah, paling nggak menghambat karat biar nggak jadi tambah parah, minimal sampe manggung di solo besok tanggal 25.
mau beli alat-alat perawatan bas tapi kok ya nggak punya-punya duit…

Permalink Leave a Comment

sisi lain: flooding

Thursday, 8 February 2007 at 9:42 (Disconcerting)

sepertinya semua acara berita di televisi beberapa hari terakhir ini selalu menayangkan betapa menyedihkannya kondisi para korban bencana "air bah" di jakarta. selamat untuk para konseptor iklan "Banjir kok jadi Tradisi – Tanya Kenapa’?"

semua orang tampaknya menyalahkan pemerintah.
"pemerintah seharusnya lebih dini mengantisipasi bencana ini supaya korbannya tidak terlantar."
"pemerintah seharusnya lebih memerhatikan kami para korban bencana ini."
"kok bantuannya nggak sampe-sampe dari kemaren, anak saya belum makan."
dan banyak lagi kalimat-kalimat yang intinya menyalahkan pemerintah. memang sih, mereka ini korban dan layak mendapat simpati, karena mereka juga butuh makan, butuh tempat berteduh yang layak, butuh pakaian, dan butuh rasa aman dari ancaman penyakit.

tapi apabila kita melihat sisi lain dari bencana ini, apakah pemerintah yang harus terus-menerus disalahkan?

beberapa pertanyaan yang patut direnungkan ketika kita ingin menyalahkan pemerintah atas kelambanannya merespon bencana banjir, kebakaran, tanah longsor, dan masih banyak lagi:
"siapa gerangan yang membuang sampah sembarangan seenak perut sendiri, bahkan di selokan, sungai, dan jalur-jalur pembuangan air lainnya?"
"siapa gerangan yang membangun rumah di tempat-tempat yang tidak layak untuk didirikan bangunan?"
"siapa gerangan yang membabat habis hutan yang fungsinya antara lain menghambat aliran air langsung dan mencegah tanah longsor?"
"apa benar pemerintah tidak pernah menganjurkan kita supaya membuang sampah pada tempatnya?"
"apa benar pemerintah tidak pernah menganjurkan kita supaya membangun rumah pada tempat-tempat yang layak?"
"apa benar pemerintah tidak pernah menganjurkan kita supaya menjaga lingkungan tetap bersih dan rapi?"

setelah menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, kiranya para korban banjir di jakarta jadi bisa lebih memahami bahwa bencana ini sedikit banyak adalah tanggung jawab mereka juga. apalagi masyarakat jakarta terkenal sangat susah diatur.

semoga mereka kelak bisa lebih memahami bahwa pemerintah indonesia ini sudah menghadapi terlalu banyak masalah. nah, kalau mereka tetap membudayakan dan melestarikan tradisi banjir, ya salah sendiri…

banjir kok jadi tradisi?
tanya kenapa???

Permalink Leave a Comment